Senin, 29 Februari 2016
Penemuan yang tak terduga
Bermula pada tahun 2004, ketika saya akan pindah dari suatu kota di Jawa Timur menuju ke suatu kota di Jawa Barat. Saat itu saya harus menyiapkan seluruh barang-barang yang sudah menemani saya selama 9 tahun untuk menimba ilmu di kota Malang. Seluruh barang sudah siap dikemas dan secara bergiliran dikirimkan ke kota tujuan, Bandung. Namun satu barang ini harus saya tinggalkan. Tepatnya dijual. Yap...motor yang selalu mengantarkan saya dari kost ke kampus, ke desa-desa, ke persawahan, maupun ke jalanan raya di kota Malang harus tetap tinggal di kota ini.
Niat menjual motor ini mempertemukan saya dengan seorang calon pembeli yang merupakan mahasiswa pascasarjana dari universitas yang sama dengan tempat saya berkuliah. Sambil melihat-lihat motor si bapak mulai bertanya,
Bapak: "mau pindah?".
Saya: "iya pak. orang tua saya tinggal di Bandung" lanjut saya.
Bapak: "ooh...asli orang Bandung?"
Saya: "bukan pak, saya aslinya dari Sumatera".
Bapak: "Padang..?"
hmmm....Bapak ini bukan orang pertama yang menyangka saya berasal dari Padang.
Saya: "bukan pak, saya dari Aceh".
Bapak: "oya? Aceh mana?" sambil membuka-buka jok motor.
Saya: "Lhokseumawe pak", dan si Bapak berhenti memeriksa motornya.
Bapak: "saya juga dari sana, siapa nama orang tuanya?"
Saya: "mungkin bapak tidak kenal orang tua saya, karena orang tua saya berpindah-pindah tugas ke luar kota, tapi mungkin bapak tau kakek saya.."
Bapak: "oh..gitu, siapa kakeknya?"
Saya: "nama kakek saya Abdul Wahab pak, dulu pernah jadi bupati di Lhokseumawe"
si Bapak terlihat kaget, berdiri di hadapan saya, melihat saya dengan tajam.
Bapak: "Subhanallah...saya tidak pernah ketemu anaknya, dan sekarang saya ketemu cucunya, Subhanallah....".
Saat itu gantian saya yang kaget. Lalu dia mengajak saya duduk dan kita berbincang.
Dari ceritanya, terlihat bahwa si Bapak sangat mengagumi kakek saya. Dia bercerita tentang seorang pemimpin yang jujur dan sederhana. Dia juga sempat bilang bahwa sayang sekali saya tidak bisa banyak belajar dengan kakek saya. Saya sebenarnya memang tidak tahu banyak tentang kakek dan jarang bertemu dengan beliau, karena sejak kecil sudah diajak orang tua berpindah-pindah dari kota satu ke kota lainnya karena tugas dinas dari institusi tempat ayah saya bekerja. Pada saat itu pun saya agak malu dengan si Bapak karena tidak bisa banyak bercerita atau berkomentar tentang kakek. Namun berawal dari pertemuan tersebut membuat saya penasaran dan ingin mencari tahu lebih tentang kakek, apa yang pernah beliau lakukan sehingga Bapak yang saya temui itu sangat bersemangat ketika bercerita tentang kakek.
Pertemuan itulah yang membuat saya berniat untuk membuat buku Biografi tentang kakek atau yang biasa kami panggil dengan sebutan Cik Abon, Drs. Tgk. Abdul Wahab Dahlawy. Tentunya saya akan menjalani riset yang sangat panjang. Mengumpulkan seluruh data, sejarah, juga cerita-cerita tentang Cik Abon. Bertemu dengan orang-orang yang pasti usianya sudah lanjut, yang pernah berada pada masa kepemimpinan beliau sebagai bupati di kota Lhokseumawe. Semoga buku ini bisa terwujud, dan bisa menjadi kenangan serta pembelajaran bagi cucu dan cicit-cicitnya kelak.
February 26, 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar